BeritaEducationUmumUtamaViral

Dari Ruang Kelas ke Lahan Tanam, Buleleng Bangun Ketahanan Pangan Berkelanjutan Lewat Sekolah

Kemon.id, Buleleng – Pemerintah Kabupaten Buleleng mengambil langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah dengan melibatkan sekolah sebagai pusat edukasi sekaligus ruang praktik berkelanjutan. Bersama Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN), Pemkab Buleleng secara resmi meluncurkan Program Ketahanan Pangan Berbasis Sekolah, Senin (12/1/2026).

Empat sekolah ditetapkan sebagai perintis program ini, yakni SD Negeri 3 Banjar Jawa, SMP Negeri 1 Singaraja, SMA Negeri 1 Singaraja, dan SMK Negeri 3 Singaraja. Program ini dirancang tidak hanya untuk mengajarkan siswa menanam, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya perawatan, keberlanjutan, dan kemandirian pangan sejak usia dini.

Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa, yang hadir mewakili Bupati Buleleng, menegaskan bahwa keberhasilan ketahanan pangan tidak bisa berhenti pada aktivitas simbolik semata. Menurutnya, keberlanjutan pemeliharaan tanaman menjadi kunci agar program benar-benar memberi manfaat nyata.

“Sering kali semangat menanam besar di awal, tetapi tidak diikuti perawatan. Padahal, di sanalah letak nilai pentingnya—membangun tanggung jawab, konsistensi, dan hasil jangka panjang,” ujar Suyasa.

Ia menilai sekolah sebagai sektor yang sangat strategis. Selain sebagai tempat belajar akademik, sekolah juga berperan membentuk karakter dan kebiasaan positif generasi muda, termasuk kepedulian terhadap lingkungan dan kemandirian pangan.

Dalam peluncuran program tersebut, YSPN menyerahkan ribuan bibit tanaman cabai dan terong, pupuk, serta bantuan sembako kepada siswa kurang mampu sebagai bagian dari kepedulian sosial dan penguatan nilai gotong royong.

Pembina YSPN, Akmal Malik, menjelaskan bahwa yayasan yang dipimpinnya merupakan lembaga independen yang bekerja dengan dukungan lintas kementerian, termasuk Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian, serta menjalin kemitraan aktif dengan pemerintah daerah.

Buleleng dipilih sebagai mitra strategis di Bali setelah program serupa dijalankan di berbagai provinsi seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Riau. Menurut Akmal, pembangunan pertanian selama ini masih terlalu fokus pada infrastruktur dan sarana produksi, sementara etos dan budaya menanam belum mendapat perhatian optimal.

“Kunci kemandirian pangan bukan hanya di alat dan lahan, tetapi pada spirit dan budayanya. Bali dikenal karena budayanya. Selama ini yang menonjol adalah seni, ke depan kita dorong budaya menanam sebagai kekuatan baru,” katanya.

Ia menambahkan, kebutuhan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan pasokan besar, seperti telur dan sayuran, yang hingga kini belum sepenuhnya dapat dipenuhi produksi lokal. Dalam konteks itulah, sekolah dipandang memiliki peran penting sebagai pusat edukasi sekaligus produksi pangan skala kecil yang berkelanjutan.

YSPN berkomitmen melakukan pendampingan jangka panjang dengan melibatkan organisasi petani dan generasi muda agar program tidak berhenti sebagai proyek sesaat, melainkan tumbuh menjadi gerakan bersama.

Akmal Malik berharap, program ini dapat menjadi percontohan nasional dan melahirkan inovasi-inovasi baru dari Buleleng.

“Buleleng memiliki spirit kuat dan sejarah panjang melahirkan tokoh-tokoh besar. Kami berharap dari sini tumbuh gagasan besar yang bisa diadopsi secara luas untuk ketahanan pangan Indonesia,” pungkasnya.

sumber: infopublik.id

What's your reaction?

Related Posts

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *